My Holiday…
Agustus 4, 2008
Hari minggu kemarin, gw menunaikan janji gw untuk pergi ke Jakarta. Sudah lama bgt, teman semasa SMA gw pengen bgt ketemu ama gw. Ya iyalah… secara gw gitu loh. setelah berkali-kali berhalangan, seperti ga punya duit, waktu dan kesibukan yg ga tepat, ga dapat tiket akhirnya hari minggu, 03 Agustus 2008 gw dan teman baik gw di Bandung berangkat ke jakarta pukul lima pagi.
Gw memang lahir di Jakarta, tapi perjalanan menuju ke sana seolah-olah memaksa gw bilang, gw lebih suka tempat gw sekarang.
Berawal dari jam lima pagi, gw tidur ga nyenyak sementara teman baik gw gak tidur sama sekali sampai jam lima. Pas di depan rumahnya, dia cuma bawa dompet dan beberapa uang kecil, sementara gw seperti biasa memakai ransel biru yang sudah lapuk bgt. Perlengkapan kita untuk sampai ke Jakarta adalah diri kita masing-masing yang berorientasi untuk memenuhi janji dan liburan, uang, tiket kereta, mizone tiga botol, roti tawar gandum, togo, permen, oleh-oleh buat teman & handphone gw.
1. Kereta parahyangan bisnis.
Sumpa… yg namanya kereta bisnis beneran ga sesuai antara nama dengan realita. Dalam imajinasi gw, bisnis berurusan dengan kecepatan, berkelas. Lah , kereta ini jauh dari itu semua. Sudah berapa lama kemerdekaan Indonesia, tapi fasilitas tetap ga jauh bedanya dengan masa perang. Ya udah, selama di kereta gw mengasikkan diri dengan memandangi suasana yang ada. Sementara teman baik gw menelusuri tubuh gw dengan sentuhan yang menyenangkan. Kita sepakat, kalo fasilitas sehariusnya bikin orang nyaman, aman dan benar-benar dijamin sampai tujuan… trus murah. Nach, Di Indonesia semua itu serba ga klop. Apalagi di Jakarta. Kita naik bajaj yang jaraknya ga gitu jauh, tau-tau abis 8.000,00. Padahal tau sendiri bajaj, mana sempit, trus full kejang, angin nrobos seenaknya yg bisa bikin org masuk angin gara-gara. Trus metromini, kopaja dan patas. Buset tiga bus ini dari dulu makin suram, rawan copet, berdesak-desakan, mana bau ketek mana bau kaki, pokoknya bau bgt dan asap knalpotnya beneran serem, full of dust. Taksi… euh, naik taksi gw mikir2, selain biayanya yg luar biasa mahal trus gw perlu nervous ama jalannya argo yg bikin gw bertanya-tanya, kok bisa ya? Mau jalan kaki? Kalo jakarta sekecil bandung, gw masih berani. Mengingat jakarta kot mahal, segala-galanya muahaaal bener. Mungkin yang murah cuma harga diri.
Setibanya di Gambir, teman baik gw ga bosan-bosannya memuji Jakarta. Konyol abis… Yach, lo cuma tau megahnya doang, komentar gw. Tak lama, setelah kita naik patas, komentar memuja berubah menjadi, Jakarta itu membosankan ya, jauh ya, panas ya, gerah ya, serem ya… Cape deh.
Kita mrnjelajahi blok m mall, sebuah pertokoan yang berada di bawah tanah. Lalu kita bertemu dgn sobat kita. Pagi itu, pukul 09.00, kita diboyong ke rumahnya buat sarapan bubur ayam. wuih… lega akhirnya sampai di jakarta, walau gerah & Panas. Keluarga teman gw ini sgt religius, mereka baru saja dari gereja dan menceritakan segala hal termasuk persahabatannya dengan uskup bandung yang belum lama meninggal. Kami berdua hanya menanggapi dengan biasa aja, soalnya gw ga gitu minat dgn urusan agama. Agama bagi gw ya urusan masing-masing dan gw ga perlu dipaksa buat rajin ke gereja atau ikut misa, soalnya gw ga bakalan datang ke acara itu. Trus, kami melanjutkan acara ke blok m plaza.
Eit, sebelumnya da kejadian yang ga asik kalo terlewat. Sebelum ke blok m, sobat gw yg di jakarta ini pergi ke kampusnya untuk bertemu dengan si x, mantan cowoknya. Pertemuan itu bukan tanpamaksud, karena sobat saya bersikukuh dan berapi-api menceritakan perjuangannya untuk memebelikan vitamin yang mahal dan madu di garut buat si x. Kami berdua sebenarnya malas bgt dan agak tidak menyetujui tindakannya. Yach, persoalan cinta itu beda tipis dengan bego. Padahal udah putus tapi tetap aja bela-belain merogoh kocek ratusan ribu cuma untuk membeli perhatian si x. Apalagi si x itu… jelek, ga ada ganteng2nya, psiko, buta warna, gangguan pendengaran, ga punya respek sama perjuangan org, manja. Apa itu ga bego namanya?
Setiba di blok m plaza, teman gw yg bernama ucil udah kesel menunggu. Sebenarnya gw juga. Tapi, liburan ini beneran gw pakai untuk menghibur diri dan mengasah persahabatan gw. So… gw ga gitu mikirin bagaimana, teman gw yang bernama mawar melati semuanya indah (jelas, bukan nama sebenarnya) lebih mendahulukan urusan dengan si mantan ketimbang menepati janji dengan ucil.
Ujung-ujungnya ke jakarta, kita malah berhenti di Solaria juga. padahal, gw mengidam-ngidamkan bebek bakar yang kremes-kremes kalo dikunyah. Udah gitu, plus nonton film indonesia yg ga lucu pula. Wuuh… kesel deh. Tapi, kesempatan di bioskop gw pake buat bercumbu dengan teman baik gw sendiri sambil tidur-tiduran ga jelas. Wuuuh, asik juga.
Trus selain itu, sebenarnya pertemuan dgn sobat-sobat gw di Jakarta lebih banyak dalam suasana makan. Dan ngobrol yang sama-sama ga bebas. Masing-masing enggan untuk mengorek kehidupan teman lain karena sama-sama merasa tidak enak hati. Misalnya, teman gw pasti ga berani bertanya mengenai kehidupan religius gw; apakah gw ke gereja, masih percayakah sama Tuhan. dsb, Gw ga berani bertanya soal pasangan teman gw dan gw males aja, penting gitu nanya hubungan org lain? Trus… gw n teman baik gw selalu mengekspresikan diri lewat tertawa, pelukan, remasan tangan dan saling merebahkan kepala di bahu satu sama lain, mereka pasti gatal untuk bertanya; Kamu berdua pacaran atau enggak?
jakarta makin sore dan kami terburu-buru mengejar tiket pemberangkatan menuju Bandung. Ternyata, saya salah turun di stasiun Gondanglia. well, wajah saya panik namun berusaha saya tutupi dengan seadanya. Teman saya ikut-ikutan panik karena ia sudah paham bagaimana saya menutupi perasaan. Untungnya kami sampai di Gambir dan membeli tiket. Setelah itu, kami sampai daerah aman. Kami membeli tiket eksekutif dan dengan sepenuh jiwa siap untuk hengkang dari Jakarta. Teman saya lalu pergi ke toilet wanita sementara itu, tanpa ijin saya mencari toilet pria. Tepat seperti dugaan saya, sepeninggal saya, teman saya kebingungan dan panik mencari saya. Saya lalu bergegas memeluknya dan meminta maaf sedalam-dalamnya . Huuuuh….
Di kereta, walalupun lebih nyaman, eksekutif seh, tapi tidur gw ga gitu nyenyak. Wahahahah, terlebih, teman baik gw ini. Ia uring-uringan merubah posisi tidur dan kelihatan lelah karenanya. Akhirnya…liburan minggu ini telah berakhir dengan tibanya kami di stasiun Hall, bandung. Oiya, kami berdua langsung sakit karena suhu jkt dan bandung luar biasa berbeda.
Selebihnya…mungkin kami akan memutuskan memilih Bali atau lombok untuk sasaran jalan-jalan kami selanjutnya.